V for Vendetta si Nyonya Tua, Sekarang atau Tidak Sama Sekali

Jakarta, Mancing Kuy Indonesia

Badai tengah melanda

Juventus

. La Vecchia Signora atau Si Nyonya Tua, begitu klub itu dijuluki, butuh bangkit dan balas dendam ke Galatasaray.

‘V’ melambangkan angka lima dalam urutan numerik Romawi. Lalu ‘Vendetta’ dalam bahasa Italia berarti balas dendam. ‘V for Vendetta’ dalam konteks ini bukan judul novel grafis karya Alan Moore dan film adaptasi James McTeigue, namun simbolisasi upaya Juventus bangun usai lima laga tanpa kemenangan.

Belum ada hasil positif bagi Juventus sejak terakhir kali menghajar Parma 4-1 di Serie A. Setelah itu, empat kekalahan dan satu imbang jadi bukti catatan buruk di bulan Februari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Noktah merah bulan ini sekaligus membuat Juventus tersingkir dari Coppa Italia dengan kekalahan 0-3 dari Atalanta di babak perempat final. Bianconeri juga berada di tepi jurang usai tumbang 2-5 lawan Galatasaray di leg pertama babak playoff fase gugur Liga Champions 2025/2026.

Jika tak mengejar defisit tiga gol, otomatis tim asuhan Luciano Spalletti ini akan terlempar di pentas Eropa. Menghilang dari dua turnamen sekaligus dalam waktu satu bulan tentu jadi bahaya bagi tim sekelas Juventus.

Ini jadi kali pertama Juventus kebobolan lima gol di kompetisi UEFA sejak kekalahan 0-4 lawan Chelsea pada Liga Champions 2021/2022. Beruntung mimpi buruk tumbang 0-7 kontra Wiener Sport Club di Piala Eropa 1958/59 tidak terjadi. Atau belum?

Tak ada pilihan selain melakukan pembuktian. Menjamu Galatasaray pada leg kedua di Stadion Allianz, Kamis (26/2) pukul 03.00 WIB kiranya jadi katalis kebangkitan bagi tim asal Turin itu.

Mencetak empat gol sekaligus mencegah lawan menjebol gawang bukan perkara mudah. Meski peluang terlihat begitu kecil, Kenan Yildiz dan kawan-kawan tetap bisa mengusahakan.

Di satu sisi, Spalletti perlu putar otak guna tetap mengerahkan kemampuan maksimal, terutama di sektor bek sayap. Ini berkaitan Emil Holm cedera, Andrea Cambiaso kena akumulasi kartu, dan Cabal diganjar kartu merah pada leg pertama.

Pola tiga bek seperti pekan lalu, kontra Como, bisa kembali diterapkan. Namun, kekalahan 0-2 lawan tim yang dimiliki pengusaha Indonesia itu mengisyaratkan utak-atik racikan Locatelli justru gagal.

Pada saat yang sama Pierre Kalulu dapat jadi secercah harapan. Pemain yang tengah menjalani sanksi kartu merah di Serie A itu bisa tampil di Liga Champions dan mengisi titik yang tanggal.

Dengan kembali bongkar pasang, adakah cerita indah untuk Si Nyonya Tua nanti malam?

[Gambas:Video Mancing Kuy]

Tancap gas sejak menit pertama bisa jadi kunci bagi

Juventus

untuk mengejar defisit agregat, tapi sekadar sporadis saja tentu tak cukup.

Galatasaray bukan tim semenjana. Meski berasal dari kompetisi di luar spektrum liga top Eropa, tim asal Istanbul itu punya modal kuat untuk mempertahankan keunggulan.

Tim besutan Okan Buruk itu justru jauh dari kata buruk. Mereka membuktikan keganasan di awal tahun ini dengan barisan pesta gol.

Dari sembilan kemenangan sepanjang 2026, tujuh di antaranya dikemas dengan torehan tiga gol atau lebih. Juventus jadi salah satu korbannya, setelah pesta gol pada leg pertama.

Sayangnya Galatasaray sempat terjungkal, pekan lalu, dengan kekalahan 0-2 dari Konyaspor. Namun, melihat tren pertandingan, tim bernuansa kuning-merah itu lebih diuntungkan dari kubu hitam-putih.

Head to head kedua tim membuktikan Galatasaray unggul jauh. Tiga kemenangan dari tujuh pertemuan. Meski tiap kali bersua adalah momen yang berbeda, sejarah membuktikan wakil Turki lebih superior.

Dengan memperhatikan laga-laga sebelumnya, Juventus perlu berkaca untuk lebih cerdik lawan Galatasaray. Baik dalam bertahan dan menyerang, kali ini tuan rumah harus lebih baik.

[Gambas:Photo Mancing Kuy]

Lini belakang Juventus harus kerja keras menghadapi lini depan mengerikan Galatasaray dengan kehadiran Victor Osimhen sebagai ujung tombak. Belum lagi ada pemain sayap Noa Lang dan dan Baris Yilmaz yang mengesankan pada pertemuan sebelumnya.

Pemain pengganti Galatasaray juga perlu dapat pengawasan. Mereka punya sederet bintang seperti Mauro Icardi, Leroy Sane, dan Ilkay Gundogan.

Kiper Juventus, Michele di Gregorio juga perlu jadi bahan evaluasi. Sebab, sudah lima pertandingan terakhir selalu kebobolan minimal dua gol. Spalletti perlu mempertimbangkan Mattia Perin.

Untuk lini depan, Juventus bisa kembali mempercayakan pada sosok Jonathan David yang baru sembuh dari cedera. Suplai bola diharapkan bisa maksimal dari kaki Francisco Conceicao dan Kenan Yildiz.

Main habis-habisan jadi kunci bagi Juventus. Akankah malam indah di Turin terjadi nanti?

[Gambas:Video Mancing Kuy]

Tancap Gas Sejak Menit Pertama, Juventus Bisa?

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:

1

2

Baca lagi: Cuaca Ekstrem Landa Makassar, Siswa Belajar Online 25-28 Februari

Baca lagi: Masjid Mungsolkanas, Filosofi di Balik Nama Masjid Tertua di Bandung

Baca lagi: Ferrari Rilis Mobil Baru SF-26 untuk F1 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: