
Jakarta, Mancing Kuy Indonesia
—
Misi besar akan tersaji di panggung semifinal
Piala Dunia 2026
. Dua kekuatan utama sepak bola dunia, Prancis dan Spanyol, akan saling bentrok demi selembar tiket ke partai puncak.
Duel adu gengsi ini dijadwalkan bergulir di Stadion Dallas, Texas, Selasa (14/7) waktu setempat atau Rabu (15/7) dini hari WIB.
Di atas kertas, bentrokan ini menyuguhkan kontras kentara. Saat armada Les Bleus datang dengan trisula lini depan yang tengah menggila, kubu La Roja justru harus tertatih akibat pincangnya dua pilar utama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, dan Michael Olise. Sulit rasanya mencari padanan kata yang tepat untuk menggambarkan keganasan tiga penggawa lini depan Prancis tersebut. Bagaimana tidak, kombinasi ketiganya telah menelurkan 23 kontribusi gol bagi tim Ayam Jantan.
Catatan fantastis itu bahkan resmi melewati rekor trio legendaris Brasil saat menjuarai Piala Dunia 2002 silam. Kala itu, Ronaldo, Rivaldo, dan Ronaldinho mengemas 20 kontribusi gol untuk membawa tim Samba naik takhta.
Hebatnya, torehan trisula Prancis masih bisa bertambah mengingat napas pesta bola edisi Ameria Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko masih tersisa.
Mbappe menjadi dirigen utama lewat gelontoran delapan gol. Sementara Dembele membuntuti dengan catatan lima gol.
Statistik ini menjadikan mereka sebagai rekan setim pertama sejak era Ronaldo-Rivaldo pada 2002 yang mampu sama-sama menembus minimal lima gol dalam satu edisi Piala Dunia.
Bukan sekadar tajam secara individual, keduanya juga mahir saling mengail rezeki. Mbappe dan Dembele tercatat sudah enam kali saling memberikan umpan gol sepanjang gempita bola dunia.
Empat dari lima assist terakhir Dembele di level internasional pun berakhir manis di kaki Mbappe. Jelas ini jadi bukti sahih bahwa chemistry mereka bukan kebetulan, melainkan cetak biru taktik yang matang.
Di sisi lain, Michael Olise tak mau ketinggalan. Donasi lima assisst sejauh ini membuat penggawa Bayern Munchen itu hanya kalah dari Pele yang mengemas enam assist pada Piala Dunia 1970.
Sayangnya, romantisme serupa tak terjadi di kubu seberang. Dua nama yang digadang-gadang menjadi senjata utama Spanyol justru layu di saat paling krusial. Lamine Yamal dan Nico Williams hingga saat ini belum menunjukkan potensi terbaik atau bisa dibilang ada dalam periode ‘mati suri’.
Lamine Yamal
, yang menjadi buah bibir saat menyabet gelar pemain muda terbaik dengan torehan satu gol plus empat assist di Euro 2024, kini seolah mati suri.
Dari enam laga yang sudah dilakoni di Amerika Utara, remaja ajaib itu baru mengoleksi satu gol dan nihil umpan matang. Gol semata wayang wonderkid 18 tahun itu tercipta kala menggilas Arab Saudi 4-0.
Bayang-bayang cedera disinyalir menjadi penyebab sang winger kehilangan magisnya. April lalu, ia mengalami sobek hamstring cukup parah saat membela Barcelona.
Setali tiga uang, nasib apes juga menimpa Nico Williams. Sayap lincah Athletic Bilbao itu harus menepi akibat cedera otot aduktor kanan pasca-menerima tekel horor Nicolas de la Cruz saat bersua Uruguay di fase grup.
Praktis, Williams hanya menjadi pemanis bangku cadangan sejak babak gugur bergulir. Ia masih menanti kesempatan bermain maksimal yang tak kunjung datang.
Namun, meremehkan Spanyol meski tampil pincang jelas sebuah kekeliruan besar. Di bawah kendali Luis de la Fuente, La Roja membuktikan diri sebagai tim yang tidak bergantung pada satu-dua nama.
Tatkala dua bintang utama meranggas, kolektivitas tim justru menyala. Buktinya, Rodri dan kolega tetap perkasa dengan status tim paling sedikit kebobolan di antara tiga semifinalis lainnya.
[Gambas:Photo Mancing Kuy]
Yamal dan Williams menghilang dari radar, Mikel Oyarzabal mencuat ke permukaan. Juru gedor milik Real Sociedad itu menjelma mesin gol alternatif lewat sumbangan empat gol.
Di sektor pertahanan, duet Pau Cubarsi dan Aymeric Laporta terbilang jempolan. Marc Cucurella yang tak kalah solid juga berperan aktif membantu sektor penyerangan. Total dua assist telah dibukukan eks pemain Chelsea itu.
Lantas Spanyol pun tetap setia pada identitasnya. Dominasi penguasaan bola tinggi, akurasi umpan presisi.
Pertempuran di Dallas nanti pada akhirnya akan menjadi panggung bentrokan dua paham bertolak belakang. Prancis percaya pada magis tiga megabintang yang membara, sementara Spanyol bersandar pada sebelas kepala yang perlu berpikir sama rata.
Secara rekam jejak, Spanyol boleh sedikit membusungkan dada. Dua pertemuan terakhir sukses mereka menangkan: unggul 2-1 di semifinal Euro 2024 dan menang dramatis 5-4 di semifinal Nations League 2025.
Pertanyaannya kini, sanggupkah ketajaman individu trisula Les Bleus meremukkan tembok pertahanan kolektif La Roja yang baru kebobolan sekali sepanjang edisi ke-23 Piala Dunia. Ataukah nama-nama pelapis seperti Alex Baena dan Mikel Merino yang kembali muncul sebagai pahlawan tak terduga?
[Gambas:Video Mancing Kuy]
Add
as a preferred
source on Google
Mbappe, Dembele, Olise Gacor, Bagaimana Nasib Spanyol?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: Prediksi Cuaca Hari Ini: Siklon Haishen Picu Hujan di Sejumlah Daerah
Baca lagi: Antiboncos, Ini 7 Tips Hemat dari Mantan Pramugari untuk Penumpang
Baca lagi: Baleg DPR Bakal Atur Karya Jurnalistik di RUU Hak Cipta


