
Jakarta, Mancing Kuy Indonesia
—
Campus League
menjadi wadah olahraga yang bisa menciptakan generasi bangsa yang lebih baik dengan memperhatikan banyak aspek.
CEO Campus League, Ryan Gozali, ingin memaksimalkan potensi ekonomi kampus berkaca dari keberadaan NCAA atau liga bola basket tingkat universitas di Amerika Serikat.
“Kalau dari sisi market value, orang banyak pikir mungkin terkenalnya kan di Amerika seperti NFL, NBA, MLB. NCAA adalah institusi kampus di Amerika, dan itu nomor dua mengalahkan NBA.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Itu kalau dikelola dengan benar, itu terakhir saya ingat untuk rightsnya aja untuk NCAA final four basket satu cabang olahraga 1
billion
dollars
. Itu
revenue
yang diterima dari
final
four
-nya NCAA sendiri. Nah itu yang kami harapkan, tentuya masih sangat jauh dibandingin di Amerika ya. Kita baru saja mulai, NCAA sudah 120 tahun. Tetapi kami mengambil nilai-nilainya, kami lokalisasi dengan
circumstance
di Indonesia itu sendiri, dengan harapan kami bisa menuju ke arah tersebut,” jelas Ryan dalam gelar wicara atau talkshow Mancing Kuy Business di Mancing KuyIndonesia TV.
Campus League tidak hanya memperhatikan soal kompetisi dari beragam cabang olahraga yang dipertandingkan, tetapi juga peduli perihal perkembangan individu-individu yang berlaga dengan tujuan akhir meningkatkan sumber daya manusia Indonesia.
“Jadi kami mempersiapkan secara holistik manusianya dengan tiga pilar kami yaitu
athleticism
di mana mereka berkompetisi dengan level tertinggi, akademik yaitu mereka harus menjaga IPK mereka tentu belajar, dan
affinity
di mana ini meningkatkan
affinity
dan
empathy
dan peduli sosial karena itulah fungsi kita sebenarnya sebagai manusia yang semakin terpelajar itu yang kita berikan balik kepada society,” kata Ryan.
“Dan dengan menjadikan itu kami percaya kami bisa melahirkan bangsa penerus yang peduli akan Indonesia, berkontribusi dan juga performanya tinggi,” ucapnya menambahkan.
Saat ini Campus League masih menggunakan sistem seri. Pada empat tahun ke depan, rencananya bakal melangkah ke fase kedua. Pada fase ini pertandingan akan berlangsung menggunakan format kandang dan tandang, bukan lagi sistem seri.
Dengan perubahan tersebut, Ryan menyatakan bakal ada kaitan dengan peningkatan ekonomi kampus.
“Kalau sudah ada
home
away
di mana kompetisi akan bertanding di kampus masing-masing dan jarak kompetisi itu mungkin tiga, empat, lima, enam bulan untuk satu cabang olahraga ini baru kebentuk sebuah kultur yang akan meningkatkan affinitas kepada para kampus dan ujung-ujungnya akan
translate
ke
business
transaction
juga baik itu melalui
merchandise
, tiket, akses menonton siaran langsung, inilah yang akan balik ke ekosistem kampus,” tutur Ryan.
Berdasar data dari AS yang dipaparkan Ryan, sebanyak 30 persen dari 500 perusahaan besar di dunia memiliki CEO yang sebelumnya menjadi atlet dari kalangan mahasiswa atau
student
athlete
. Sementara di luar 500 perusahaan besar, penghuni manajemen senior yang bertanggung jawab atas arahan strategis dan operasional merupakan
student
athlete
.
“Kita sedang membuat super human. Karena untuk menjadi student athlete dibutuhkan
time
management
,
leadership
,
conflict
management
, stamina tinggi, dan lain-lain. Ini nilai2 yang sangat dicari, berharga di dunia korporat. Mereka akan menjadi, terbiasa berkompetisi dan naik
corporate
ladder
. Kita menciptakan generasi bangsa yang lebih baik lagi dengan jadi
student
athelte
,” tukas Ryan.
[Gambas:Video Mancing Kuy]
(nva/jal)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: Hendrik Irawan Minta Maaf Usai Aksi Joget di Acara Prabowo Viral Lagi
Baca lagi: Terkonfirmasi, Giorgio Antonio Bukan CEO PT GLI
Baca lagi: Ari Aster Akui Sudah Bikin Cerita Prekuel Hereditary



