Piala Dunia dan Isu Pencemaran Lingkungan yang Tak Kunjung Usai

Jakarta, Mancing Kuy Indonesia

Piala Dunia 2026

di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko menyimpan masalah besar di balik kemeriahan lapangan hijau. Pesta sepak bola terbesar sejagat itu diprediksi menjadi turnamen paling mencemari lingkungan dalam sejarah.

Piala Dunia 2026 semula diprediksi bakal menghasilkan 3,6 juta ton emisi karbon dioksida berdasarkan catatan ketiga tuan rumah. Namun penelitian lanjutan dari Sustainable Growth Rate (SGR) memperkirakan angka tersebut bertambah lebih dari 9 juta ton emisi karbon dioksida.

Perjalanan udara menjadi penyumbang terbesar, yakni sekitar 7,7 juta ton dari total anggaran karbon tersebut. Jumlah itu empat kali lebih besar dibandingkan rata-rata emisi dari perjalanan udara pada turnamen yang digelar rentang 2010 hingga 2022.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam skenario terburuk, estimasi atas emisi transportasi udara bisa mencapai 13,7 juta ton CO2. Para peneliti menegaskan, angka-angka itu menempatkan Piala Dunia 2026 sebagai turnamen paling kotor dalam catatan sejarah.

FIFA disebut sebagai salah satu biang keladi dari lonjakan emisi ini. Badan sepak bola dunia itu memutuskan menambah jumlah tim peserta dari 32 menjadi 48 negara, sekaligus menetapkan tiga tuan rumah bersama dengan bentang geografis sangat luas.

Konsekuensinya, rute perjalanan tim dan suporter menjadi sangat panjang. Bosnia dan Herzegovina misalnya, harus menempuh perjalanan lebih dari 5.000 kilometer dari Toronto ke Los Angeles lalu ke Seattle, belum termasuk perjalanan ke kamp latihan mereka di Salt Lake City.

Aljazair juga harus terbang sejauh sekitar 4.800 kilometer untuk bolak-balik dari Kansas City ke San Francisco. Sementara Republik Ceko memulai laga di Guadalajara sebelum terbang ke Atlanta dan Mexico City, menempuh total lebih dari 4.500 kilometer.

Mengutip

Sports Pro

, masalah lingkungan ini bukan kali pertama mencuat di edisi 2026. Pada 2022, Presiden FIFA Gianni Infantino mendengungkan misi menjadikan Piala Dunia Qatar 2022 sebagai turnamen yang “netral karbon”.

Kenyataannya, Piala Dunia Qatar 2022 justru menjadi bom karbon dalam balutan olahraga. Turnamen itu membutuhkan lebih dari 1.000 penerbangan setiap hari dengan menggunakan sistem desalinasi yang boros energi.

Bahkan benih rumput untuk lapangan sepak bola pun diterbangkan dari Amerika Utara menggunakan pesawat dengan pendingin khusus. Praktik-praktik itu dinilai sebagai greenwashing atau retorika hijau tanpa tindakan nyata yang bermakna.

Baca di halaman berikutnya>>>

Citra

greenwashing

FIFA semakin kuat dengan langkah kontroversial pada 2024: menandatangani kemitraan empat tahun dengan Aramco. Perusahaan energi milik negara Arab Saudi itu dikenal sebagai emitor gas rumah kaca korporasi terbesar di dunia, bertanggung jawab lebih dari 4 persen dari seluruh emisi sejak 1965.

Lantas, lebih dari 100 pesepakbola profesional turut menandatangani surat yang mengecam kemitraan itu. Mereka menyebut dampak lingkungan dari kemitraan tersebut sebagai masalah serius yang tidak bisa diabaikan.

Di luar isu emisi, ancaman cuaca ekstrem juga menghantui Piala Dunia 2026. Badan Cuaca Nasional AS memperingatkan bahwa seluruh wilayah di negara itu akan mengalami suhu yang melampaui rata-rata historis selama dua bulan turnamen berlangsung.

Sebanyak 26 pertandingan Piala Dunia 2026 akan digelar saat suhu berada di atau melampaui 26 derajat Celsius WBGT (wet bulb globe temperature). Ambang batas itu merupakan titik di mana FIFPro, serikat pemain global, menyatakan jeda pendinginan menjadi keharusan.

Sebuah studi akademis bahkan menyimpulkan hasil yang lebih mengkhawatirkan. Sebanyak 14 dari 16 kota tuan rumah berpotensi mengalami rata-rata WBGT yang melampaui 28 derajat Celsius pada Juni dan Juli.

FIFPro berpandangan bahwa suhu WBGT 28 derajat Celsius sudah layak menjadi alasan penghentian sementara pertandingan.

FIFA memang mengambil sejumlah langkah untuk meredam panas. Banyak pertandingan di kota-kota panas dijadwalkan pada malam hari, dan setiap babak akan disisipkan ‘jeda hidrasi’ selama tiga menit.

[Gambas:Photo Mancing Kuy]

Tiga kota yang paling terpapar panas berbahaya yakni Houston, Dallas, dan Atlanta, memang memiliki stadion ber-AC. Namun energi yang dibutuhkan untuk mendinginkan stadion-stadion itu justru menambah beban emisi karbon yang sudah menggunung.

Lebih dari satu dekade setelah FIFA lantang berbicara tentang sepak bola hijau, Piala Dunia 2026 hadir sebagai bukti nyata bahwa janji-janji lingkungan itu belum pernah dipegang teguh.

[Gambas:Video Mancing Kuy]

Add

as a preferred

source on Google

Perjalanan Udara Jadi Penyumbang Pencemaran Terbesar

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:

1

2

Baca lagi: Sindikat Online Scams Internasional Ditangkap, Jutaan Akun Diblokir

Baca lagi: Rumah Silmy Karim Digeledah KPK, Pengacara Buka Suara

Baca lagi: Momen Pemain Israel Ditampar dan Dilempar Sepatu Saat lawan Albania

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: