Cak John, Benarkah Telah Lahir Putra Sang Fajar Timnas Indonesia?

Jakarta, Mancing Kuy Indonesia

Masa bulan madu John Herdman bersama

Timnas Indonesia

kiranya sudah selesai. Pria asal Inggris ini akan menghadapi realitas sepak bola nasional.

Sudah empat laga dijalani Herdman bersama Timnas Indonesia. Hasilnya, tiga kemenangan dan sekali kalah. Indonesia mencipta tiga clean sheet dan hanya kebobolan sekali lewat penalti.

Intinya, performa tim Garuda racikan Herdman menjanjikan. Puja-puji mengalir kepada pelatih 50 tahun ini, seperti tergambar di media sosial. Bak bulan madu, rasanya manis; harmonis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah ini, Herdman akan berhadapan dengan realitas sepak bola Indonesia. Pelatih yang membawa Kanada lolos ke Piala Dunia 2022 ini akan tampil di Piala AFF 2026 pada Juli-Agustus.

Memang, sebagian orang menganggap Piala AFF sebagai turnamen ciki -merujuk jajanan- tetapi faktanya Indonesia belum pernah juara. Ada asa Herdman menjadi yang pertama.

Realitasnya tidak mudah. Pemain-pemain Indonesia yang berkiprah di Eropa, seperti Jay Idzes, Kevin Diks, Calvin Verdonk, Maarten Paes, bahkan Marselino Ferdinan, tak bisa ambil bagian.

Kekuatan utama Garuda tidak tersedia dalam Piala AFF 2026. Bisa apa Indonesia tanpa diaspora? Ini bukan pertanyaan retoris. Ini tantangan terbuka bagi Cak John, anggap saja demikian ia disapa.

Setelah itu ada ASEAN FIFA Championship 2026 pada September-Oktober. Walau skalanya, sekali lagi masih ASEAN, tetap saja ini berbeda dengan uji coba yang atmosfernya agak hambar.

Dan, bedanya Piala AFF dengan FIFA ASEAN, pemain diaspora bisa hadir. Turnamen ini akan berlangsung bertepatan dengan kalender internasional atau FIFA Matchday selama dua pekan.

Setelah itu ada kalender internasional periode November. Dua laga uji coba bisa digelar. Ini persiapan terakhir resmi sebelum tampil di Piala Asia 2027 pada 7 Januari hingga 5 Februari 2027.

Sungguh, empat laga uji coba pada Maret dan Juni 2026, tidak bisa menjadi acuan. Ini hanya uji coba. Skuad lawan juga bukan yang utama. Gairah lawan juga tak semenyala tampil di kejuaraan.

Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Singapura, sudah siap menguji idealisme Herdman. Utamanya Thailand dan Vietnam yang saat ini berada di 100 besar Ranking FIFA, masih merasa di atas Indonesia.

Sekali lagi, bisakah Herdman merekonstruksi Timnas Indonesia yang tanpa diaspora menjadi tim mematikan di kawasan ASEAN? Ini bukan soal piala, ini tentang kepantasan menjadi jawara.

Baca lanjutan analisis ini di halaman berikutnya >>>

Timnas Indonesia itu tidak ditakdirkan menjadi perkasa di pentas dunia. Hanya jago kawasan, yang itu pun dalam berdekade-dekade tak terbukti. Begitu kata banyak orang tua.

Namun, persepsi itu sekilas akan patah dengan hadirnya John Herdman di Timnas Indonesia. Setelah asa bersama shin Tae Yong meranggas, kini bunga-bunga juara bersemi lagi.

Lihatlah, Timnas Indonesia asuhan Herdman jadi tim yang kuat dalam

ball possession

: 70 persen atas Saint Kitts and Nevis, 71 persen atas Bulgaria, 57 persen atas Oman, dan 60 persen atas Mozambik.

Rasio umpan akurat meningkat, pola main penuh siasat, dan daya juang pemain memikat. Pernyataan pelatih Oman, Tarik Sektioui setelah dikalahkan Indonesia menegaskan harapan itu.

“Kami bermain melawan tim yang sangat terorganisir dan seimbang di setiap lini. Kami sudah sampaikan bahwa tim Indonesia telah berkembang pesat,” kata Sektioui, Jumat (5/6).

“Peringkat mereka saat ini [dalam Ranking FIFA) tidak mencerminkan kualitas permainan yang sebenarnya, terutama dengan perkembangan dalam beberapa tahun terakhir.”

Timnas Indonesia sudah naik kelas. Itu fakta. Tidak bisa dibantah. Namun, tanpa ada prestasi, itu hanya predikat semu. Bunga-bunga ‘tim jawara’ tak akan abadi tanpa adanya prestasi.

PSSI boleh saja berhegemoni: mana lebih hebat tampil di Piala Asia daripada juara Piala AFF? Ini cacat pikir. Dalam idiom Inggris itu tidak

apple to apple

. Piala AFF dan Piala Asia itu

apple to orange

.

[Gambas:Photo Mancing Kuy]

Piala AFF, Piala Asia, dan Piala Dunia seyogyanya bukan untuk diperdebatkan. Ini piramida kejuaraan. Kalau mau juara ke Piala Dunia rutinlah main di Piala Asia dan sering pula juara di Piala AFF.

Kenapa sering jadi predikat? Ya, karena level sepak bola suatu negara bisa diukur dari pencapaiannya di kejuaraan sekawasan. Bagi negara ‘yang hatinya kecil’ seperti Indonesia, perlu stimulus.

Cak John pun sadar Piala AFF tidak pantas direndahkan, dipandang sebelah mata. Ajang ini juga punya harkat. Martabat ASEAN perlu diangkat sebagai tanda jiwa yang besar.

Meminjam istilah buku semi-autobiografi Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat, apakah putra sang fajar di Timnas Indonesia telah lahir? Apakah Cak John putra sang fajar bagi Garuda?

Apa itu putra sang fajar? Dalam khazanah Jawa ia adalah tokoh yang hebat. Untuk menjadi tokoh yang hebat, perlu juga mewariskan piala. Warisan itulah yang kini tidak dimiliki Indonesia.

[Gambas:Video Mancing Kuy]

Add

as a preferred

source on Google

Generasi Berprestasi dan Tsunami Gelar

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:

1

2

Baca lagi: Mengenal Noctilucent, Awan Bercahaya Muncul Juni 2026

Baca lagi: Satu Jam Presale, Semua Tiket Konser BTS Jakarta Ludes Dipesan

Baca lagi: Sinopsis The Humanity Bureau, Bioskop Trans TV 10 Juni 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: