
Jakarta, Mancing Kuy Indonesia
—
Argentina
acap kali selamat dari lubang jarum berkat ‘sihir’
Lionel Messi
. Kali ini, apakah Swiss mampu meredam keajaiban La Pulga di perempat final
Piala Dunia 2026
?
Status juara bertahan tak membuat jalan Argentina di Piala Dunia 2026 mulus begitu saja. Dua kali La Albiceleste nyaris tersungkur di fase gugur, namun dua kali pula mereka sukses ‘bangkit dari kubur’.
Kini rintangan selanjutnya sudah menanti di perempat final. Swiss siap mengadang. Duel bakal tersaji di Kansas City Stadium, Sabtu (11/7) atau Minggu (12/7) pagi waktu Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Swiss, laga ini jadi istimewa. Terakhir kali La Nati menembus 8 besar Piala Dunia terjadi 72 tahun lalu, tepatnya edisi 1954 saat mereka berstatus tuan rumah.
Sementara jalan Argentina menuju perempat final penuh drama sejak babak 32 besar. Laga lawan tim debutan Cape Verde nyatanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Mereka baru bisa menang 3-2 lewat perpanjangan waktu.
Skenario lebih menegangkan tersaji ketika berjumpa Mesir di 16 besar. Argentina sempat tertinggal 0-2 hingga menit ke-78, sebelum akhirnya berbalik menang 3-2.
Gol penyelamat datang dari Cristian Romero, Lionel Messi, dan gol penentu Enzo Fernandez di masa injury time. Comeback itu jadi bukti mental juara masih terpatri di skuad Lionel Scaloni.
Dari lima laga dilakoni sepanjang turnamen, Argentina belum sekali pun terkalahkan. Messi pun tampil sebagai top skor sementara dengan koleksi delapan gol. Salah satu terbanyak di antara seluruh pemain tersisa.
Tetapi di balik rekor sempurna itu, ada catatan mengganjal. Lini tengah Argentina dianggap kurang lebar dan cenderung padat di tengah, membuat kreativitas serangan banyak bertumpu pada individu.
Julian Alvarez pun belum menemukan performa terbaiknya sepanjang gempita bola dunia. Lautaro Martinez, yang biasanya tajam, juga tak kunjung produktif di depan gawang lawan.
Kondisi itu bikin celah di sisi sayap Argentina kerap terekspos. Baik Tanjung Verde maupun Mesir sempat mengail keuntungan dari titik lemah tersebut sebelum akhirnya tetap takluk.
Di kubu seberang, Swiss punya cerita berbeda. Mereka melenggang mudah atas Aljazair di 32 besar, sebelum harus berjuang keras lewat adu penalti untuk menyingkirkan Kolombia di 16 besar.
Yang menarik, Swiss lolos dari laga kontra Kolombia tanpa mencetak satu pun gol sepanjang 120 menit. Kiper Gregor Kobel jadi pahlawan usai menahan penalti Cucho Hernandez, sebelum Ruben Vargas mengeksekusi tendangan penentu kemenangan.
Rekor pertahanan Swiss juga mentereng. Tim asuhan Murat Yakin belum sekali pun kalah dalam waktu normal sepanjang Piala Dunia 2026 bergulir. Ini jadi modal berharga jelang menghadapi tim sekelas Argentina.
Sayangnya, catatan positif Swiss itu harus dibayar mahal. Johan Manzambi, pemain muda sekaligus jadi top skor tim sementara dengan tiga gol dan dua assist, dipastikan absen di laga ini.
Manzambi mengalami cedera lutut non-kontak saat sesi latihan jelang laga melawan Kolombia. Yakin sendiri mengakui kecil kemungkinan pemain 20 tahun itu pulih tepat waktu untuk perempat final.
Bukan cuma Manzambi, Swiss juga harus rela kehilangan Michel Aebischer dan Luca Jaquez. Keduanya diragukan tampil akibat masalah otot. Kehilangan beruntun ini memaksa sang juru latih merombak skema yang sebelumnya berjalan efektif sejak fase grup.
Ardon Jashari disiapkan mengisi kekosongan yang ditinggalkan Manzambi di lini tengah. Sementara itu, Fabian Rieder turut diproyeksikan mempertahankan posisinya untuk menambal celah taktikal yang muncul.
Beruntung bagi Swiss, kapten Granit Xhaka dan kiper Gregor Kobel tetap fit sebagai jangkar emosional skuad. Keduanya jadi figur senior dan diharapkan mampu menjaga stabilitas tim di tengah badai cedera.
Secara historis, Argentina di atas angin jika bicara rekor pertemuan. Kedua negara sudah dua kali bertemu di Piala Dunia, dan Argentina menang di keduanya.
Pertemuan pertama terjadi di fase grup Piala Dunia 1966 Inggris, di mana Argentina menang telak 2-0. Pertemuan kedua tersaji di 16 besar Piala Dunia 2014 Brasil, dengan Argentina kembali unggul 1-0 lewat perpanjangan waktu.
Faktor Messi jelas jadi pembeda utama yang membuat sejarah berpihak pada Argentina. Kini, di usia 39 tahun, ia masih mampu mengubah hasil akhir hanya dalam hitungan menit.
Momen kontra Mesir jadi bukti. Assist dan gol La Pulga hanya berjarak 4 menit 19 detik ketika membalikkan keadaan dari tertinggal menjadi imbang.
Namun, Swiss juga punya senjata tak bisa dianggap remeh, yakni Kobel. Kiper Borussia Dortmund itu menjadi salah satu penjaga gawang terbaik sepanjang gelaran.
Di sisi lain, Emiliano Martinez juga tampil konsisten menjaga gawang tim Tango di saat-saat kritis. Duel dua kiper terbaik juga berpotensi jadi penentu jalannya laga.
Ancaman Swiss tak bisa dipandang sebelah mata meski kehilangan Manzambi. Kecepatan Dan Ndoye dan Ruben Vargas di sisi sayap tetap jadi opsi transisi cepat yang bisa merepotkan lini belakang Argentina.
Pertanyaannya saat ini, mampukah disiplin serta soliditas Swiss meredam individu-individu kelas dunia milik Argentina. Atau justru kembali terulang cerita lama, di mana sihir Messi jadi penentu nasib La Albiceleste di pentas dunia?
[Gambas:Video Mancing Kuy]
Add
as a preferred
source on Google
Swiss Pincang, Argentina Mulus Melenggang?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: Mata Desta Cedera Kena Bola Padel yang Dipukul Rekan Sendiri
Baca lagi: Harga Tiket Piala Dunia 2026 Anjlok Drastis, Ada Apa?
Baca lagi: BMKG Rilis Daftar 8 Wilayah Masih Berpotensi Hujan Hari Ini


