
Kudus, Mancing Kuy Indonesia
—
Garuda Pertiwi
membongkar alasan kesulitan menambah gol setelah unggul jumlah pemain melawan Yordania dalam semifinal
Srikandi Merdeka Cup 2026
di Supersoccer Arena, Jumat (21/8).
Dalam pertandingan itu Garuda Pertiwi menang telak 3-0. Gol-gol kemenangan wakil Indonesia tersebut dicetak Kesya arabela, Jazlyn Kayla, dan Fadilla.
Garuda Pertiwi punya kans menambah gol pada babak kedua setelah Yordania bermain dengan 10 orang usai Leen Anzour mendapatkan kartu merah dari wasit pada menit ke-56.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akan tetapi keunggulan jumlah pemain itu tidak bisa dimanfaatkan dengan baik oleh Garuda Pertiwi. Winger Shifana Rizka Nadhifa mengungkapkan timnya kurang sabar dalam bermain saat unggul jumlah pemain.
“Saat kami unggul jumlah pemain, dengan 11 pemain sedangkan lawan dengan 10 pemain. Kenapa kami tidak menambahkan gol? Soalnya kami kurang simpel (dalam bermain), kami terlalu terburu-buru buat main ke depan,” ujar Shifana.
Pelatih Timo Scheunemann juga mengungkapkan permainan yang terlalu individu dari para pemainnya menjadi kendala bagi Garuda Pertiwi hanya terpaku pada kemenangan 3-0 melawan Yordania.
“Agak terburu-buru dan terlalu individualis. Terlalu mau menonjolkan skill. (Itu) ada waktunya, ada saatnya. Tapi sepak bola itu permainan tim, jadi harus bermain secara tim di luar harus bermain ada chemistry, di dalam lapangan harus ada chemistry. Harus kerja sama, enggak boleh sendiri-sendiri. Kalau tadi masih pada mau nyetak (gol) sendiri gitu, akhirnya menyulitkan diri sendiri,” ucap Timo.
Meski begitu Timo Scheunemann berharap publik tidak terlalu cepat menghakimi pemain-pemain Garuda Pertiwi. Timo mengingatkan, kalau pemain-pemainnya saat ini masih muda dengan rentang usia 14 hingga 16 tahun.
“Tapi harus dipahami ya, ini anak-anaknya kan masih pemain kita kan tahun (kelahiran) 2012, 2011, 2010. Jadi ya itu sesuatu yang sangat lumrah gitu kalau performanya masih belum bisa menguasai ketegangan atau kurang tenang seperti itu. Itu bagian dari pembelajaran gitu supaya pada saat nanti main mereka di senior sudah, sudah benar-benar matang gitu. Nah, mematangkannya di sini gitu,” tutur Timo.
Pelatih berdarah Jerman ini menilai, tim kelompok umur seperti Garuda Pertiwi menjadi sarana pembinaan dan pengembangan bakat pemain yang sebenarnya.
“Makanya kalau orang bilang proses, proses melulu, lho ini bukan senior, ini junior, ini kelompok umur, ya proses memang di sini. Memangnya orang dilahirkan jago? Enggak bisa. Ada bakat tapi harus dikembangkan.”
“Nah salah satunya yang harus dikembangkan itu bisa mengatasi tekanan. Bayangkan main di sini penonton kayak begini, semifinal ya kan? Umur segini dengan segala macam wartawan yang ada, ini, itu pembelajaran untuk mereka bisa mengatasi hal itu,” tutur Timo menjelaskan.
[Gambas:Video Mancing Kuy]
(sry/ptr)
Baca lagi: Xanh SM Resmi Luncurkan Taksi Listrik di Indonesia
Baca lagi: 10 Fakta Karhutla Kalimantan: Asap Nyeberang Malaysia-Relawan Dirawat
Baca lagi: Perubahan Daihatsu Sigra 1.2 R


