
Jakarta, Mancing Kuy Indonesia
—
Rosario, Argentina, hari ini 39 tahun lalu,
Lionel Andres Messi Cuccitini
lahir sebagai buah hati Jorge dan Celia. Siapa sangka, anak ketiga dari empat bersaudara itu bukan hanya berkah bagi orang tuanya, melainkan kado untuk pecinta sepak bola di seluruh dunia.
Greatest of All Time, disingkat GOAT, terpatri dalam dirinya. Delapan Ballon d’Or, trofi Piala Dunia 2022, rekor top skor Piala Dunia sepanjang masa, dan segudang gelar sepanjang kariernya mempertegas La Pulga adalah terbaik di sepak bola.
Banyak pesepakbola hebat masih aktif hingga detik ini. Tapi Messi ada di level berbeda. Perjalanan hidupnya juga mengiring banyak cerita.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Messi datang dari keluarga ekonomi pas-pasan. Ayahnya buruh pabrik baja, sementara ibunya bekerja di pabrik magnet menyambil petugas kebersihan.
Tapi di sela-sela denting baja, sang ayah sembari melatih tim muda lokal di sana, Grandoli namanya. Akademi itu jadi titian pertama La Pulga cinta sepak bola.
La Pulgita, istilah Spanyol dengan arti ‘Kutu’ dalam Bahasa Indonesia. Demikian kakak-kakaknya memberi panggilan kemudian memangkasnya sebagai La Pulga. Maknanya sama: kecil dan lincah.
Kecilnya postur Messi merupakan bawaan lahir karena gangguan hormon pertumbuhan (GHD). Namun kondisi fisiknya justru jadi katalis kelincahannya dalam mengolah bola sejak belia.
Kondisi fisik Messi baru diketahui saat sudah bergabung dengan akademi klub lokal di Rosario, Newell’s Old Boys. Situasi itu sempat membuat keluarga Messi kelimpungan karena butuh biaya tinggi untuk menopang sang anak bisa berkembang.
Yakin dengan bakat emas Messi, Newell’s Old Boys sepakat untuk memberi subsidi biaya perawatan agar meringankan asuransi orangtuanya dari pabrik. Di saat bersamaan, ayah Messi malang-melintang ke berbagai klub besar agar anaknya ikut ujicoba.
Klub raksasa Argentina, River Plate sempat tertarik dengan Messi muda. Namun Newell’s Old Boys ingin kontrak permanen. Perjanjian kemudian batal.
Hingga akhirnya, ayah Messi menghubungi sanak saudara di Barcelona. Gayung bersambut dan Messi ikut tes di La Masia. Di sanalah Carles Rexach, salah satu direktur di Barcelona melihat bakatnya.
Februari 2001, Messi dan keluarganya pindah ke Barcelona. Setahun di La Masia, Messi tergabung ke ‘Baby Dream Team’ berisi nama-nama potensial seperti Cesc Fabregas dan Gerard Pique pada musim 2002/2003.
Di musim pertamanya itu, Messi jadi top skor dengan 36 gol dari 30 pertandingan. Meski tulang pipinya sempat patah dan terpaksa menggunakan topeng pelindung, rentetan gelar junior seperti Piala Spanyol dan Copa Catalunya berhasil dipersembahkan.
Dari panggung tersebut, Messi disebut sempat dilirik Arsenal. Rekannya, Fabregas, memilih hijrah ke London. Pique juga sepakat merantau ke Manchester. La Pulga menetap di Barcelona.
Keputusan itu justru berbuah sejarah.
Cerita Messi dan timnas Argentina tak pernah tegak lurus. Pasang-surut dialaminya saat membela negara. Namun kesetian justru membawanya sebagai terbaik sepanjang masa.
Siapa tak lupa Messi memutuskan pensiun dari tim nasional 10 tahun silam. Kala itu beban di pundaknya terlampau berat. Kapten, kalah di final Piala Dunia 2014 dan Copa America 2016. Manusiawi jika seorang manusia memilih tahu diri.
Namun memilih gantung sepatu saat usia belum genap 30 tahun mengundang cibiran. Terlebih saat Messi batal pensiun dan kembali memimpin timnas Argentina di Piala Dunia 2018 namun hancur lebur di babak 16 besar.
Dunia seakan habis-habisan menghajarnya. Di Barcelona Messi segalanya, tapi di Argentina waktu itu Messi belum apa-apa.
Namun, lambat laun Messi mengukir cerita. Diawali dengan juara Copa America 2021 dan klimaksnya di Qatar pada 2022. Messi mengangkat trofi juara Piala Dunia.
Titik ini jadi akhir perdebatan pesepakbola terbaik sepanjang masa. Sebab dengan juara Piala Dunia, Messi akhirnya punya semua.
Banyak spekulasi Messi pensiun dari La Seleccion selepas Piala Dunia. Namun cerita justru berlanjut dengan menjuarai Copa America 2024.
Bahkan dengan usianya kini sudah 39 tahun, Messi belum habis pula. Perannya di tim bukan cuma sebatas gelang kapten melingkar di lengan, namun jadi penentu kemenangan.
Dua pertandingan Argentina di Piala Dunia 2026 berjalan, Messi jadi aktor tunggal penjebol gawang lawan. Bukan satu atau dua, tapi lima.
Kini sudah 18 gol dipersembahkan di Piala Dunia. Tidak ada satupun pemain bersanding dengan jumlah sama. Angka ini sangat bisa bertambah selama ada Messi di arena.
Sudah lebih dari 20 tahun Messi berdansa dengan bola seakan lawan hanya penonton belaka. Dan, tidak ada hitungan pasti titik Messi berhenti.
Sebab selagi ada orangnya dan mumpung ada waktunya, publik sedang menyaksikan individu terbaik sepak bola tampil dengan terampil. Messi adalah kado terindah untuk sepak bola dunia.
[Gambas:Video Mancing Kuy]
Add
as a preferred
source on Google
Sempat Dihina Bersama Argentina, hingga Juara Dunia
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: 100 Titik SPPG Fiktif Ditemukan di Cilacap, Ada yang di Kuburan
Baca lagi: FOTO: Tampang Taufik Hidayat Saat Digelandang ke Kantor Polisi
Baca lagi: Said Dorong Kebijakan Afirmatif Tarif Cukai Rokok Golongan III