
Jakarta, Mancing Kuy Indonesia
—
Keajaiban tangan
Jose Mourinho
bersama
Real Madrid
bakal diuji Inter Milan dalam pertandingan pertama Liga Champions di Stadion Santiago Bernabeu, Rabu (9/9) dini hari WIB.
Transformasi Real Madrid di bawah Jose Mourinho sempat terlihat meyakinkan. Namun retakan pertama justru muncul akhir pekan lalu, tepat sebelum ujian besar di Liga Champions menanti.
Los Blancos mengawali musim dengan sempurna. Mereka mengantongi tiga kemenangan beruntun atas Espanyol, Real Sociedad, dan Malaga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemenangan besar atas Sociedad dan Malaga bahkan sempat memunculkan optimisme soal harmoni trio Mbappe, Vinicius, dan Bellingham di lini depan.
Namun optimisme itu dihadapkan dengan realitas sadis. Madrid tumbang 0-1 dari Real Betis, Sabtu (5/9) dini hari WIB.
Momen menegangkan sempat hadir di masa injury time. Gol Carlos Espi dianulir wasit karena dirinya lebih dulu dalam posisi offside, sebelum Madrid mendapat kesempatan penalti yang gagal dieksekusi Mbappe.
Mourinho sendiri terlihat kesulitan menjelaskan hasil tersebut usai laga. “Kadang-kadang Anda kalah dan tidak tahu bagaimana menjelaskannya,” ujar Mou.
Data pertandingan sebetulnya berpihak pada Madrid. Penguasaan bola dominan, peluang berlimpah, tapi penyelesaian akhir jadi mata rantai yang putus di momen krusial. Ini persis masalah lama yang belum terselesaikan.
[Gambas:Video Mancing Kuy]
Mourinho juga menyinggung faktor nonteknis, termasuk keputusan wasit soal posisi Marc Bartra yang sempat masuk kotak penalti sebelum eksekusi penalti dilakukan. Sindiran itu menambah nuansa frustrasi di kubu Los Blancos.
Kekalahan ini jadi yang pertama bagi The Special One, julukan Mou, sejak kembali menangani Los Merengues. Itu terjadi setelah tiga laga sebelumnya berjalan mulus tanpa cela.
Timing kekalahan ini pun buruk. Cuma berselang beberapa hari, Madrid harus langsung bangkit menghadapi laga besar di ajang yang jauh lebih prestisius.
Selasa (8/9) malam waktu Spanyol atau Rabu dini hari WIB, giliran Liga Champions menanti. Inter Milan datang ke Santiago Bernabeu untuk laga pembuka musim ini.
Beban jadwal padat pun tak bisa dihindari. La Liga dan Liga Champions berjalan beriringan. Karenanya Mourinho perlu membagi fokus dan energi dalam waktu sempit.
Kekalahan dari Betis bisa dimaklumi sebagai insiden kecil dalam perjalanan musim yang panjang. Tapi kalau pola serupa terulang lawan tim yang jauh lebih berpengalaman di panggung Eropa, ceritanya bisa jadi lain.
Baca kelanjutan berita ini di halaman berikutnya>>>
Inter Milan bukan tim sembarangan yang kebetulan mampir ke kasta tertinggi antarklub di Eropa. Dalam empat musim terakhir, Nerazzurri sudah dua kali menembus partai puncak.
Perjalanan pertama terjadi pada 2023. Inter melaju ke final usai menyingkirkan AC Milan di semifinal, meski akhirnya kalah 0-1 dari Manchester City di Istanbul lewat gol tunggal Rodri.
Dua musim berselang, cerita serupa terulang. Inter kembali ke final usai drama semifinal melawan Barcelona. Di partai puncak, giliran Paris Saint-Germain (PSG) yang menjegal langkah mereka.
Rekam jejak panjang Inter di final Eropa bahkan lebih tua dari itu. Klub asal Milan ini sudah tujuh kali mencicipi partai puncak sepanjang sejarah, dengan koleksi tiga gelar juara dan empat kali jadi
runner-up
.
Status Inter musim lalu juga tak main-main. Di bawah asuhan Cristian Chivu, mereka menyabet Scudetto Serie A ke-21.
Awal musim 2026/2027 pun berjalan mulus buat Nerazzurri. Mereka kini hanya kalah selisih gol dari AS Roma di puncak klasemen Liga Italia.
Lautaro Martinez tetap jadi ancaman utama lini depan Inter. Kapten asal Argentina itu mengakhiri musim lalu sebagai top skor Serie A dengan koleksi 17 gol.
Pengalaman berulang di panggung final membentuk mental yang sulit ditandingi. Tim-tim yang terbiasa bermain di bawah tekanan besar cenderung lebih tenang menghadapi situasi krusial. Madrid belum sempat menjajal lawan yang seperti itu di musim ini.
[Gambas:Video Mancing Kuy]
Kondisi psikologis kedua tim jelang laga ini cukup mencolok. Inter datang dengan modal status juara bertahan di Italia. Sedangkan Madrid, yang baru saja menelan kekalahan pertama musim ini, juga masih dalam bayang-bayang kegagalan dua musim sebelumnya.
Risikonya jelas kalau pola dominan tapi mandul di depan gawang terulang. Inter bukan tim yang akan memberi ampun atas peluang-peluang terbuang.
Modal penyeimbang tetap ada. Skema Mourinho terbukti bisa berjalan mulus ketika eksekusi tim rapi, seperti terlihat jelas saat menggilas Real Sociedad dan Malaga.
Laga menghadapi Inter pun jadi lebih dari sekadar pembuka fase liga Champions. Ini jadi tolok ukur nyata sejauh mana transformasi yang dibangun Mourinho benar-benar solid, atau masih rapuh di bawah tekanan lawan kelas atas.
Madrid punya modal dan sejarah untuk bicara banyak di kompetisi ini. Status ‘Raja UCL’ juga masih tersemat di skuad Los Blancos.
Walau begitu, menghadapi tim yang sudah dua kali merasakan tekanan final dalam empat musim terakhir, sentuhan magis saja belum tentu cukup. Madrid perlu cetak biru yang kukuh untuk meladeni setiap lawan dengan segala dinamika berbeda.
[Gambas:Photo Mancing Kuy]
Jakarta, Mancing Kuy Indonesia
—
Keajaiban tangan
Jose Mourinho
bersama
Real Madrid
bakal diuji Inter Milan dalam pertandingan pertama Liga Champions di Stadion Santiago Bernabeu, Rabu (9/9) dini hari WIB.
Transformasi Real Madrid di bawah Jose Mourinho sempat terlihat meyakinkan. Namun retakan pertama justru muncul akhir pekan lalu, tepat sebelum ujian besar di Liga Champions menanti.
Los Blancos mengawali musim dengan sempurna. Mereka mengantongi tiga kemenangan beruntun atas Espanyol, Real Sociedad, dan Malaga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemenangan besar atas Sociedad dan Malaga bahkan sempat memunculkan optimisme soal harmoni trio Mbappe, Vinicius, dan Bellingham di lini depan.
Namun optimisme itu dihadapkan dengan realitas sadis. Madrid tumbang 0-1 dari Real Betis, Sabtu (5/9) dini hari WIB.
Momen menegangkan sempat hadir di masa injury time. Gol Carlos Espi dianulir wasit karena dirinya lebih dulu dalam posisi offside, sebelum Madrid mendapat kesempatan penalti yang gagal dieksekusi Mbappe.
Mourinho sendiri terlihat kesulitan menjelaskan hasil tersebut usai laga. “Kadang-kadang Anda kalah dan tidak tahu bagaimana menjelaskannya,” ujar Mou.
Data pertandingan sebetulnya berpihak pada Madrid. Penguasaan bola dominan, peluang berlimpah, tapi penyelesaian akhir jadi mata rantai yang putus di momen krusial. Ini persis masalah lama yang belum terselesaikan.
[Gambas:Video Mancing Kuy]
Mourinho juga menyinggung faktor nonteknis, termasuk keputusan wasit soal posisi Marc Bartra yang sempat masuk kotak penalti sebelum eksekusi penalti dilakukan. Sindiran itu menambah nuansa frustrasi di kubu Los Blancos.
Kekalahan ini jadi yang pertama bagi The Special One, julukan Mou, sejak kembali menangani Los Merengues. Itu terjadi setelah tiga laga sebelumnya berjalan mulus tanpa cela.
Timing kekalahan ini pun buruk. Cuma berselang beberapa hari, Madrid harus langsung bangkit menghadapi laga besar di ajang yang jauh lebih prestisius.
Selasa (8/9) malam waktu Spanyol atau Rabu dini hari WIB, giliran Liga Champions menanti. Inter Milan datang ke Santiago Bernabeu untuk laga pembuka musim ini.
Beban jadwal padat pun tak bisa dihindari. La Liga dan Liga Champions berjalan beriringan. Karenanya Mourinho perlu membagi fokus dan energi dalam waktu sempit.
Kekalahan dari Betis bisa dimaklumi sebagai insiden kecil dalam perjalanan musim yang panjang. Tapi kalau pola serupa terulang lawan tim yang jauh lebih berpengalaman di panggung Eropa, ceritanya bisa jadi lain.
Baca kelanjutan berita ini di halaman berikutnya>>>
Inter Milan Lebih Siap Menang ketimbang Madrid
Inter Milan berpotensi jadi ancaman serius bagi Real Madrid. (REUTERS/Ciro de Luca)
Inter Milan bukan tim sembarangan yang kebetulan mampir ke kasta tertinggi antarklub di Eropa. Dalam empat musim terakhir, Nerazzurri sudah dua kali menembus partai puncak.
Perjalanan pertama terjadi pada 2023. Inter melaju ke final usai menyingkirkan AC Milan di semifinal, meski akhirnya kalah 0-1 dari Manchester City di Istanbul lewat gol tunggal Rodri.
Dua musim berselang, cerita serupa terulang. Inter kembali ke final usai drama semifinal melawan Barcelona. Di partai puncak, giliran Paris Saint-Germain (PSG) yang menjegal langkah mereka.
Rekam jejak panjang Inter di final Eropa bahkan lebih tua dari itu. Klub asal Milan ini sudah tujuh kali mencicipi partai puncak sepanjang sejarah, dengan koleksi tiga gelar juara dan empat kali jadi
runner-up
.
Status Inter musim lalu juga tak main-main. Di bawah asuhan Cristian Chivu, mereka menyabet Scudetto Serie A ke-21.
Awal musim 2026/2027 pun berjalan mulus buat Nerazzurri. Mereka kini hanya kalah selisih gol dari AS Roma di puncak klasemen Liga Italia.
Lautaro Martinez tetap jadi ancaman utama lini depan Inter. Kapten asal Argentina itu mengakhiri musim lalu sebagai top skor Serie A dengan koleksi 17 gol.
Pengalaman berulang di panggung final membentuk mental yang sulit ditandingi. Tim-tim yang terbiasa bermain di bawah tekanan besar cenderung lebih tenang menghadapi situasi krusial. Madrid belum sempat menjajal lawan yang seperti itu di musim ini.
[Gambas:Video Mancing Kuy]
Kondisi psikologis kedua tim jelang laga ini cukup mencolok. Inter datang dengan modal status juara bertahan di Italia. Sedangkan Madrid, yang baru saja menelan kekalahan pertama musim ini, juga masih dalam bayang-bayang kegagalan dua musim sebelumnya.
Risikonya jelas kalau pola dominan tapi mandul di depan gawang terulang. Inter bukan tim yang akan memberi ampun atas peluang-peluang terbuang.
Modal penyeimbang tetap ada. Skema Mourinho terbukti bisa berjalan mulus ketika eksekusi tim rapi, seperti terlihat jelas saat menggilas Real Sociedad dan Malaga.
Laga menghadapi Inter pun jadi lebih dari sekadar pembuka fase liga Champions. Ini jadi tolok ukur nyata sejauh mana transformasi yang dibangun Mourinho benar-benar solid, atau masih rapuh di bawah tekanan lawan kelas atas.
Madrid punya modal dan sejarah untuk bicara banyak di kompetisi ini. Status ‘Raja UCL’ juga masih tersemat di skuad Los Blancos.
Walau begitu, menghadapi tim yang sudah dua kali merasakan tekanan final dalam empat musim terakhir, sentuhan magis saja belum tentu cukup. Madrid perlu cetak biru yang kukuh untuk meladeni setiap lawan dengan segala dinamika berbeda.
[Gambas:Photo Mancing Kuy]
Inter Milan Lebih Siap Menang ketimbang Madrid
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: TAUD: Hari Ini Serangan Air Keras Dibalas Impunitas
Baca lagi: Daerah Gelar Pemutihan Denda Pajak Kendaraan yang Masih Berlangsung
Baca lagi: Detik-detik Pesawat Kargo Tergelincir saat Mendarat di Miami