
Jakarta, Mancing Kuy Indonesia
—
Timnas Spanyol
berhasil meraih gelar juara Piala Dunia 2026. Ini menjadi gelar Piala Dunia kedua buat La Furia Roja setelah capaian perdana tahun 2010.
Spanyol meraihnya dengan elegan. Spanyol membuat sang juara bertahan, Argentina tidak berkutik di partai puncak, bahkan saat situasinya masih 11 vs 11.
Spanyol memang hanya menang tipis 1-0 di Stadion New York, New Jersey, Amerika Serikat, Minggu (19/7) malam waktu setempat atau Senin (20/7) dini hari WIB. Gol semata wayang itu pun datang dari Ferran Torres pada awal babak kedua perpanjangan waktu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, skor 1-0 tidak sepenuhnya memotret pertarungan Spanyol vs Argentina di medan pertempuran. Andai kiper Argentina, Emiliano Martinez tak tampil menawan, skor akhirnya bisa lebih buruk buat La Albiceleste, julukan Argentina.
Spanyol tampil dominan. Mengacu data Sofascore, penguasaan bola mereka mencapai 65 persen berbanding 35 persen milik Argentina, tembakan tepat sasaran 12 kali berbanding nol shot on target Argentina selama 120 menit pertandingan.
Kunci dominasi Spanyol tidak lepas dari sang kapten tim, Rodri. Soal skill, Rodri tidak perlu diperdebatkan adalah gelandang bertahan terbaik di dunia selama beberapa tahun belakangan.
Namun, sosok Rodri bukan hanya diukur dari skillnya. Pemain jebolan akademi Atletico Madrid itu adalah pemimpin, sosok yang tenang dalam tekanan, dan terpenting yakni pemain yang muncul dengan kualitasnya di pertandingan besar.
Saat banyak orang mengaitkan Spanyol dengan
wonderkid
Lamine Yamal, Piala Dunia 2026 ini justru menjadi panggung penahbisan diri Rodri sebagai satu di antara gelandang bertahan terbaik sepanjang masa.
Sebelumnya, banyak keraguan muncul terkait kontribusi yang bisa diberikan Rodri buat Spanyol di Piala Dunia 2026. Keraguan yang beralasan karena performa Rodri setelah absen lama karena cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL) belum menawan.
Rodri juga kerap absen sepanjang musim lalu karena cedera-cedera lain yang menerpanya. Saat publik ragu, mantan pelatih Man City, Pep Guardiola menegaskan bahwa orang-orang akan melihat Rodri yang sebenarnya di Piala Dunia 2026.
“Kalian bertanya kapan Rodri kembali ke bentuk terbaik? Dia akan melakukannya saat Piala Dunia 2026,” ucap Guardiola dalam sebuah wawancara dengan Sky Sports pada 30 Oktober 2025.
Ramalan Guardiola terbukti jitu. Rodri memperlihatkan pengaruhnya yang begitu signifikan sebagai konduktor permainan tim asuhan Luis de la Fuente.
Ketenangan, kedewasaan, dan visi Rodri dalam mengolah si kulit bundar membuat Spanyol begitu kuat mempertahankan bola di kaki mereka.
Dalam kamus Rodri tidak ada kata panik. Kualitas ini yang tidak banyak dimiliki oleh gelandang bertahan lainnya. DNA Spanyol yang kuat dalam penguasaan bola dijembatani Rodri dengan penampilan gemilangnya.
Besarnya peran Rodri terlihat di dua pertandingan terakhir melawan Prancis dan Argentina. Prancis bahkan begitu ditakuti dan difavoritkan menjadi juara karena berbahayanya trio Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, dan Michael Olise.
Namun, kehebatan Prancis itu bisa dinetralisir oleh Rodri dan kawan-kawan. Pressing tinggi yang dilakukan plus kecerdikan La Furia Roja mengelola permainan membuat Prancis tak berkutik dan kalah 0-2. Spanyol lolos relatif mudah ke final.
Saat melawan Argentina, Spanyol lagi-lagi membuktikan kolektivitas permainan mereka yang jempolan. Para pemain Spanyol bahkan berhasil membuat Lionel Messi jauh dari area kotak penalti selama 120 pertandingan.
Redupnya penampilan Messi yang datang dengan catatan 8 gol dan 4 assist di Piala Dunia 2026 membuat Argentina limbung. Beruntung Messi dan kawan-kawan tidak kalah dengan skor yang lebih telak.
Menariknya, Spanyol keluar sebagai di Piala Dunia 2026 tanpa banyak sorotan. Meski difavoritkan sejak awal, tim Matador sejatinya baru dianggap sebagai kandidat serius meraih gelar usai menjinakkan Prancis.
Sebelum itu, sorotan lebih banyak mengarah ke individu atau timnas lain. Di awal turnamen, publik dibuai dengan romantisme last dance Messi dan Cristiano Ronaldo.
Messi kemudian jadi yang paling menonjol karena menggendong Argentina hingga partai puncak. Obrolan seputar ketajaman Erling Haaland bersama Norwegia lalu luar biasanya daya ledak serangan Prancis juga lebih masif terdengar.
Di sisi lain, Spanyol berjalan dalam senyap. Keraguan skuad Spanyol tak luntur meski status favorit juara dipertanyakan karena ditahan imbang tanpa gol oleh tim debutan Cape Verde yang menawan bersama kiper mereka, Vozinha.
Satu per satu lawan bisa dilewati. Tujuh pertandingan dimenangi oleh Spanyol setelah hasil imbang mengecewakan kontra Cape Verde di Stadion Atlanta, 15 Juni lalu. Spanyol mengalahkan tim-tim seperti Arab Saudi (4-0), Uruguay (1-0), Austria (3-0), Portugal (1-0), Belgia (2-1), dan Prancis (2-0) dalam waktu 90 menit.
Baru di partai final, Spanyol harus bertanding hingga babak perpanjangan waktu saat mengalahkan Argentina. Pada akhirnya, Spanyol mengakhiri Piala Dunia 2026 dengan berdiri di podium tertinggi.
Spanyol juara Piala Dunia dengan torehan sejarah karena jadi tim yang paling sedikit kebobolan sepanjang turnamen. Kiper Unai Simon hanya satu kali memungut bola dari gawangnya ketika menang tipis atas Belgia.
Spanyol pun meraih gelar Piala Dunia untuk kali kedua tanpa banyak drama di Piala Dunia 2026.
[Gambas:Video Mancing Kuy]
Add
as a preferred
source on Google
Spanyol Berjalan dalam Senyap
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: Rodri Tak Menyangka Raih Golden Ball, Tanpa Cetak Gol dan Assist
Baca lagi: Hasil Lelang Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz Ditetapkan, Cek Daftarnya
Baca lagi: BMKG Ungkap Daftar 12 Wilayah Berpotensi Hujan Lebat Hari Ini