Merapal Ulang Mantra Usang, ‘Balas di Piala AFF Dua Tahun Lagi’

Jakarta, Mancing Kuy Indonesia

Gagal, coba lagi, gagal, coba lagi, gagal, coba lagi. Gagal terus, coba terus. Sebuah semangat luar biasa dari

Timnas Indonesia

yang tak pernah padam dalam kurun 30 tahun.

Kegagalan mungkin bisa dibilang teman sejati Timnas Indonesia. Oke ada keberhasilan kenaikan peringkat dalam ranking FIFA. Prestasi yang harus diakui, tetapi ada juga kegagalan yang jadi fakta.

Berhasil menembus fase kedua, ketiga, keempat kualifikasi Piala Dunia, tapi berujung gagal tampil di putaran final Piala Dunia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berhasil menang atas Kamboja dan Timor Leste, namun kemudian dijungkalkan Vietnam dan disetop Singapura. Ini kiprah terakhir Timnas Indonesia dalam sebuah ajang, tepatnya di Piala AFF.

Agenda dua tahunan di regional Asia Tenggara yang sudah berjalan sejak 1996. Sampai 30 tahun berselang belum sekali pun Timnas Indonesia jadi kampiun di ajang ini.

Target juara yang diusung pada Piala AFF 2026, gagal tercapai (lagi). Cerita lama berulang kembali. Dari zaman Robby Darwis sampai Robi Darwis, sejak disponsori perusahaan bir sampai disokong pabrik otomotif, mulai masa pemerintahan Soeharto sampai kini Prabowo Subianto jadi presiden, Piala AFF cuma incaran yang tak kunjung jadi kenyataan.

Ada kalanya jarak ke podium sudah cukup dekat, hanya hitungan 90 menit, tetapi langkah kaki para pemain tak jadi naik podium seperti pada 2000 dan 2002 saat laga final hanya berlangsung dalam satu leg.

Ketika final Piala AFF dimainkan dalam dua leg, Indonesia bisa empat kali tembus ke partai perebutan gelar. Hasilnya nihil.

Impian jadi raja Asia Tenggara tak kunjung nyata. Sematan ‘King Indo’ tak ubahnya harapan yang kemudian jadi halusinasi dan bahan guyon belaka.

Segala macam cara sudah digunakan, mendatangkan pelatih asing hingga menggaet pemain naturalisasi dari Eropa dan menjaring mereka pulang. Cerita pahit lagi yang didapat.

Indonesia berusaha membentuk tim nasional yang terbaik, negara lain juga berupaya menjadikan wakilnya di lapangan hijau sebagai kesebelasan tanpa kalah. Skor akhir pertandingan jadi penentu siapa yang lebih unggul.

Formula naturalisasi gagal di Indonesia. Padahal dengan cara yang sama, Singapura dan Vietnam bisa mendatangkan gelar. Memang tak semua pola sama punya hasil berbeda. Mungkin naturalisasi bukan cara yang terbaik buat Indonesia, bisa jadi naturalisasi harus didukung talenta-talenta dari kompetisi sepak bola yang baik di dalam negeri.

Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>

Kalau sekadar mau angkat piala coba bikin kejuaraan dengan mengundang negara-negara peringkat bawah di ranking FIFA, namun bukan seperti itu cara menjadi juara sesungguhnya.

Spanyol meraih titel juara dunia dengan mengalahkan Argentina, bukan San Marino yang ada di posisi buncit atau ke-211 dalam daftar rangking FIFA.

Lantaran peringkat para peserta yang kurang mengkilap dibanding ajang-ajang lain, seperti Piala Asia atau Piala Dunia, posisi Piala AFF jelas jauh levelnya.

Terlepas dari kontestan kelas medioker, tetap saja Piala AFF jadi barometer sepak bola Asia Tenggara. Indonesia juga bukan atau belum jadi kontestan reguler Piala Asia. Sementara impian Piala Dunia juga belum kunjung kesampaian.

John Herdman tidak mengesampingkan Piala AFF. Pelatih kedua yang dikontrak PSSI era Erick Thohir di Timnas Indonesia itu menjadikan ajang dua tahunan tingkat regional sebagai dasar piramida sebelum menuju target di pucuk piramida, yakni lolos Piala Dunia 2030.

Setelah Piala AFF 2026 ada FIFA ASEAN, Piala Asia, dan kualifikasi Piala Dunia 2030.

Masalah muncul ketika tim Garuda menggelepar-gelepar di Piala AFF 2026. Pertanyaan pun menyusul hadir. Apakah Indonesia sanggup berbicara di pentas yang lebih tinggi, melawan negara dengan level yang lebih baik?

Oke mungkin ada jawaban soal bakal ada pemain-pemain lain yang akan hadir, Calvin Verdonk, Joey Pelupessy, Kevin Diks, Ole Romeny, dan Jay Idzes.

Apa itu jawaban sebenarnya dari masalah buruknya penampilan Timnas Indonesia di Pakansari dan di Singapura?

Boleh jadi iya, tapi semua adalah jawaban instan yang mengubur sederet persoalan pelik di balik sepak bola Indonesia yang tak kunjung keruan dari tahun ke tahun.

Lantaran Piala AFF hanya berlangsung dua tahunan, ya kegagalan hari ini sudah sewajarnya disikapi dengan suara lantang, ‘Balas di Piala AFF dua tahun lagi’.

Tak terasa 30 tahun sudah berlalu dari kegagalan pertama di Piala AFF. Di mana level Indonesia saat ini dibanding tiga dekade lalu? Masih ada di level yang sama, atau membaik, atau memburuk? Kita semua punya jawaban masing-masing.

[Gambas:Video Mancing Kuy]

Piala AFF Enggak Penting, tapi Tetap Dipandang

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:

1

2

Baca lagi: Airlangga Kasih Sinyal Mobil Hybrid Tak Dapat Insentif

Baca lagi: Penipuan CPNS Mencuat di Jatim, Rugi Ditaksir Tembus Rp20 M

Baca lagi: Mensos Targetkan 150 Ribu Anak Masuk Sekolah Rakyat pada 2027

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: