
Jakarta, Mancing Kuy Indonesia
—
Fajar Alfian
/
Muhammad Shohibul Fikr
i
berhasil merebut dua gelar dalam dua pekan beruntun di Jepang dan China. Tulang punggung Indonesia itu kini bernama Fajar/Fikri.
Dalam rangkaian turnamen Japan Open dan China Open, Fajar/Fikri tampil luar biasa. Di turnamen level Super 750 dan Super 1000 itu, Fajar/Fikri selalu mengakhiri perjalanan mereka dengan gelar juara di tangan.
Catatan keberhasilan Fajar/Fikri makin terasa sempurna karena mereka berhasil mengalahkan Kim Won Ho/Seo Seung Jae di babak final pada dua turnamen tersebut. Kim/Seo saat ini diakui sebagai ganda putra nomor satu dunia dan mendominasi persaingan di nomor ganda putra pada BWF Tour saat ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena itulah, kemenangan Fajar/Fikri dalam dua turnamen beruntun berarti besar bagi mereka. Pertama, mereka akhirnya bisa kembali berdiri di podium juara setelah lima kali beruntun masuk final dan hanya jadi runner up.
Catatan lima kali runner up secara beruntun itu yang kemudian seolah meredupkan sinar Fajar/Fikri sejak mereka berpasangan. Padahal, masuk enam final dalam satu tahun sejak berpasangan sudah termasuk pencapaian luar biasa.
Karena itulah, dua gelar beruntun di Jepang dan China juga turut melarutkan keraguan-keraguan yang tersisa pada Fajar/Fikri. Bahwa Fajar/Fikri bukan spesialis runner up, bahwa mereka selalu tampil antiklimaks di laga final. Kini, catatan itu bisa terbantahkan dengan dua kemenangan beruntun di Jepang dan China.
Penampilan di Jepang dan China itu sekaligus menandai ‘ulang tahun’ Fajar/Fikri sebagai pasangan. Sejak berpasangan, total Fajar/Fikri masuk ke delapan final dengan catatan tiga gelar juara.
Kemenangan ini juga jadi dua kemenangan perdana Fajar/Fikri di tahun 2026. Performa Fajar/Fikri yang dinilai menunjukkan penurunan di tahun 2026 karena hanya sekali masuk final tiba-tiba langsung melesat kembali ke puncak performa.
Fajar/Fikri juga menegaskan bahwa mereka adalah tulang punggung Indonesia saat ini. Fajar/Fikri memberikan gelar pertama Indonesia di Super 1000 dan Super 750 lewat kemenangan di China dan Jepang. Keberhasilan Fajar/Fikri membuat Indonesia kini juga punya gelar di level atas, menyelamatkan wajah Indonesia sebagai negara besar di dunia badminton.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Dari jajaran 10 besar dunia di lima nomor yang ada, Indonesia hanya punya wakil. Rinciannya, Jonatan Christie (peringkat 3), Putri Kusuma Wardani (6), Fajar/Fikri (2), dan Sabar Karyaman/M. Reza Pahlevi (9).
Jonatan ada di peringkat 3 besar namun performanya inkonsisten. Selain itu, Jonatan sudah ada di luar Pelatnas PBSI sehingga performa dan hal-hal lainnya tidak bisa lagi dipantau oleh PBSI.
Putri KW ada di zona 10 besar. Ia mulai rutin memasuki babak perempat final ke atas. Namun bisa dibilang Putri KW masih ada di ‘level 10 besar’ dan belum masuk kategori favorit juara di tiap turnamen seperti halnya kelompok An Se Young, Akane Yamaguchi, Wang Zhiyi, dan Chen Yufei.
Hal serupa juga ada pada Sabar/Reza. Sabar/Reza masih ada di level ’10 besar’ dan kuda hitam, bukan ganda yang bisa dianggap pesaing serius untuk juara.
Karena itulah, Fajar/Fikri kini jadi satu-satunya wakil Indonesia yang dianggap punya potensi besar untuk juara. Mereka bisa kembali konsisten masuk ke babak akhir dan selalu diwaspadai dalam persaingan perburuan gelar.
Fajar/Fikri juga mulai terlihat mencatat peningkatan kualitas. Fajar/Fikri kini punya defense yang lebih baik dan rapat dibanding sebelumnya.
Sebagai ganda putra yang dinilai tak punya ‘smes menggelegar’, Fajar/Fikri butuh daya tahan dalam menghadapi adu drive, reli, dan smes lawan yang punya tekanan lebih besar. Salah satu caranya, tentu dengan memiliki defense yang lebih baik.
Namun status Fajar/Fikri sebagai satu-satunya wakil yang masuk kategori elite membuat langkah mereka terbilang berat. Mereka akan selalu jadi ujung tombak target besar seperti Kejuaraan Dunia dan Asian Games mendatang.
Fajar/Fikri akan bermain dalam bayang-bayang menggenggam target Indonesia secara keseluruhan, bukan hanya target untuk diri mereka sendiri. Ada bayangan, kegagalan atau keberhasilan Indonesia akan sepenuhnya ditentukan oleh mereka.
Belum lagi berbicara fakta bahwa persaingan di nomor ganda putra itu sengit dengan pemain-pemain berkualitas, bukan hanya Kim/Seo. Masih ada saingan berat yaitu Liang Weikeng/Wang Chan, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin, hingga Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty.
Dengan usia Fajar sudah 31 tahun, stamina Fajar juga bakal terus dipertanyakan. Terlebih bila membicarakan soal Olimpiade Los Angeles 2028 sebagai target utama mereka. Sedangkan Fikri pasti akan kembali dihadapkan pada pertanyaan pada daya tahan mentalnya di laga final andai ada turnamen yang gagal mereka menangkan.
Sambil menyaksikan Fajar/Fikri terus berusaha meningkatkan kualitas dan menutupi kekurangan demi terus bertahan di level atas, cara terbaik jelas memunculkan nama-nama lain sebagai andalan termasuk barisan pemain muda seperti Alwi Farhan, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, dan Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum yang terus mengintip untuk masuk 10 besar.
Sambil menunggu hal itu terwujud nyata, harus diakui dan disadari bahwa Fajar/Fikri kini jadi tulang punggung yang menjaga nama Indonesia tetap bisa berdiri tegak dalam persaingan di level dunia.
[Gambas:Video Mancing Kuy]
Add
as a preferred
source on Google
Sejauh Mana Fajar/Fikri Bisa Bertahan?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: Polda Metro Sebut Kabar Ajudan Febrie Adriansyah Tewas Ditembak Hoaks
Baca lagi: Emma Roberts dan Cody John Resmi Menikah
Baca lagi: Prabowo Libatkan Danantara dalam Setiap Keputusan KSSK



