
Jakarta, Mancing Kuy Indonesia
—
Perjalanan Timnas Cape Verde di
Piala Dunia 2026
menginspirasi banyak orang. Sang pelatih, Pedro Leitao Brito atau yang akrab disapa Bubista, punya kisah masa lalu unik yang tak disangka membawanya hingga titik sekarang.
Di sebuah desa terpencil bernama Povoacao Velha di Pulau Boa Vista, dahulu hanya ada satu unit televisi. Bukan satu televisi per jalan, melainkan benar-benar hanya satu untuk satu desa.
Setiap kali malam pertandingan Piala Dunia tiba, seluruh warga akan berkumpul mengelilingi TV itu. Di sanalah, seorang bocah bernama Pedro Leitao Brito terpaku menyaksikan kehebatan Diego Maradona dan Lothar Matthaus. Saat itu, ibunya hanya bisa membuatkan bola sepak dari gulungan kaus kaki bekas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bocah itu tumbuh besar, menjadi kapten Timnas Cape Verde Verde selama 11 tahun, dan kini dikenal dengan nama “Bubista”-nama Kreol untuk pulau tempat ia dilahirkan.
Pada Sabtu (27/6) di Houston, pria berusia 56 tahun itu berdiri di pinggir lapangan sebagai pelatih, menyaksikan negaranya mencetak sejarah lolos ke fase gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya.
Cape Verde sukses bermain imbang 0-0 melawan Arab Saudi. Di saat yang sama, Spanyol menumbangkan Uruguay 1-0 di Guadalajara. Hasil tersebut membuat tim berjuluk
The Blue Sharks
lolos sebagai runner-up grup pada penampilan perdana mereka di Piala Dunia, setelah enam kali gagal di kualifikasi sebelumnya.
Di babak 32 besar Piala Dunia 2026, Cape Verde akan menantang juara bertahan Argentina, negara asal legenda sepak bola dunia Maradona. Bedanya, kini Argentina memiliki Lionel Messi.
Menjelang laga krusial melawan Argentina, Bubista sempat berujar kepada media, seperti dikutip
Indian Express
: “Setiap orang berhak untuk bermimpi dan tidak ada yang mustahil.”
Ia tidak mengatakannya seperti sedang berpidato ilmiah, melainkan berbicara sebagai seorang pria yang tumbuh di desa yang hanya memiliki satu televisi dan bermain dengan bola dari kaus kaki. Ia tahu persis berapa harga yang harus dibayar agar negaranya bisa dipandang terhormat oleh dunia.
Saat peluit panjang berbunyi, ia percaya orang-orang asing saling berpelukan merayakan kebahagiaan di jalanan Kota Praia, Rotterdam, hingga Lisbon. Rasa rindu mendalam dari para perantau Cape Verde akan kampung halaman mereka kini terbayar lunas setelah melihat aksi pasukan Bubista di Piala Dunia 2026.
Bubista, sebagai bocah dari Povoacao Velha, yang sudah pernah melihat hal-hal yang jauh lebih besar di televisi pinjaman masa kecil di desanya, akan menatap laga lawan Argentina tanpa rasa khawatir.
[Gambas:Video Mancing Kuy]
(wiw/sry)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: Viral Trump Ngobrol dengan ‘Roosevelt’, Jadi Olok-olokan Netizen
Baca lagi: Panas Ekstrem ‘Membara’ di Prancis, 2 Ribu Orang Tewas dalam Sepekan
Baca lagi: Hyundai Akan Bawa Mobil Listrik 7 Seater Buatan RI ke GIIAS 2026



