
Jakarta, Mancing Kuy Indonesia
—
Cerita bek bintang tim nasional
Kolombia
Andres Escobar menjadi salah satu kisah paling tragis terkait sejarah sepakbola dan narkoba. Pemain Atletico Nacional yang kala itu baru berusia 27 tahun ditembak mati di tanah airnya setelah drama gol bunuh diri
Piala Dunia
1994 di Amerika Serikat (AS).
Escobar meninggal dalam peristiwa tragis usai Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Dia dibunuh dengan ditembak sebanyak enam kali oleh kartel narkoba di depan kelab malam El Indio pada 2 Juli 1994 atau selang beberapa hari setelah Kolombia tersingkir dari babak penyisihan grup Piala Dunia imbas drama bunuh diri itu.
Dalam laporan media di Kolombia, para penembak kabarnya meneriakkan ‘Gol!’ setiap kali melepaskan tembakan ke arahnya. Escobar pun langsung tewas di tempat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembunuhan tersebut pun diduga karena kegeraman para kartel lantaran insiden gol bunuh diri yang dilakukan bek tengah Kolombia itu.
Pria yang kemudian ditangkap dan mengakui pembunuhan tersebut adalah Humberto Castro Munoz, seorang pengawal dan sopir dua pengedar narkoba terkenal di kota besar Kolombia. Sempat muncul spekulasi tentang motif pembunuhan karena anggota kartel kalah judi.
Meski belum pernah terbukti bahwa Escobar terbunuh karena gol bunuh dirinya, pembunuhannya dipandang sebagai konsekuensi tragis dari kebobrokan sepak bola Kolombia akibat campur tangan dan aliran uang para gembong narkoba.
Humberto Munoz akhirnya dijatuhi hukuman 43 penjara.
Escobar memang sempat menjadi sorotan tajam publik sepak bola Kolombia. Pasalnya, dia membuat gol bunuh diri pada menit ke-35 saat melawan Amerika Serikat di Grup A Piala Dunia 1994.
Escobar berusaha menghalau tendangan penyerang tim Paman Sam, John Harckes. Namun, bola yang mengenai kakinya malah mengarah ke gawang timnya sendiri dan kebobolan. Gol tersebut membuat tuan rumah di atas angin. Amerika Serikat pun menang 2-1 atas Kolombia.
Rentetan peristiwa kelam itu pula yang sulit diusir dari ingatan Carlos Valderrama, rekan setim Escobar.
“Tak pernah terjadi sebelumnya di belahan bumi manapun kejadian seperti ini [pembunuhan terhadap pesepakbola karena hasil di lapangan],” ungkap Valderrama kepada Fox Sport dikutip dari
El Universo
.
Valderrama pun sedikit menyesalkan seandainya Escobar mengikuti saran ofisial tim agar jangan langsung pulang ke negara mereka usai kekalahan memalukan tersebut. Pasalnya, sempat tersiar kabar bahwa bakal ada teror di Kolombia menyusul kekalahan memalukan itu.
“Itu momen yang menyedihkan. Kami tersingkir [dari Piala Dunia 1994]. Mereka [ofisial tim] menawarkan kami dua pilihan, kembali ke Kolombia atau bertahan untuk sementara di Amerika Serikat. Saya pilih bertahan.”
“Kemudian ketika saya berada di pesawat untuk pulang [ke Kolombia]. Hari itu pula terjadi pembunuhan terhadap Andres [Escobar]. Pramugari pun sempat memberitahu saya terjadi pembunuhan terhadap rekan setim saya timnas di Kolombia,” ujar Valderrama.
Meski pramugari tidak memberitahu nama korban pembunuhan, nama Escobar yang terlintas dalam benak Valderrama.
“Saya masih terguncang. Saya sangat gelisah di kursi pesawat. Dia [pramugari] tidak mau memberitahu saya bahwa itu adalah Andres Escobar [ketika itu].”
“Waktu berlalu dan saya tidak bisa melupakannya hingga sekarang. Hanya karena permainan sepak bola di lapangan, mereka tega menghabisi Anda,” terang El Pibe, julukan Valderrama.
Escobar disebut dicintai bukan hanya karena kemampuan sepak bolanya. Ia dilihat sebagai sosok yang tenang dan lembut, bahkan dijuluki ‘Sang Gentleman’.
Namun, sepakbola Kolombia dan bisnis kokain saat itu memang menjadi sorotan. Bahkan Atletico Nacional pernah didanai oleh raja narkoba terkenal dunia Pablo Escobar.
[Gambas:Video Mancing Kuy]
(tim/dal)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: Ustazah Diduga Hasil AI Viral di TikTok, Followers Tembus 920 Ribu
Baca lagi: Gempa M 6,7 Guncang Kepulauan Sangihe Sulut
Baca lagi: Bangkit dari Lubang Kelam: Kisah Para Seleb Hollywood Lepas Narkoba



